Sekitar 4,5 tahun yang lalu, aku melahirkan anak
keduaku. Dengan cara SC pada usia 38 minggu. Pertimbangan melakukan SC pada
saat itu karena suamiku kuatir melihat napasku suka tersenggal-senggal seperti
orang kelelahan plus tidurnya selalu mengorok, itu diluar kebiasaanku (padahal
aku sendiri merasa biasa saja). Yang terlintas
didalam benaknya, bagaimana bisa ngeden kalau aku terlihat gampang capai.
Padahal aku ingin sekali bisa melahirkan dengan normal, karena anak pertamaku
lahir SC juga pada usia kehamilan 43 minggu karena portio bengkak pada
pembukaan 4/5. Selain suamiku, ternyata dokterku juga heran melihat bentuk
perutku yang sangat besar, setiap kontrol selalu berkata “tambah besar sekali
ya”. Tapi ketika diUSG terlihat janinnya berukuran normal tidak sebanding
dengan ukuran perutku. Aku suka bertanya kepada dokter yang memeriksa, kok bisa
begitu? Dan dijawab: “mungkin lemak perutnya tebal” (duh duh... gimana
ngilanginnya ya? Kebayang deh tebalnya soalnya tidak sebanding dengan ukuran
janin yang kukandung).
Maka pada saat menurut dokter usia kehamilanku sudah
matang (diatas 38 minggu), aku dijadwalkan untuk SC. Sehari sebelum SC,
dilakukan persiapan termasuk bertemu dokter yang akan membiusku. Aku bernego
supaya bisa dibius secara total dengan pertimbangan karena banyak kasus yang
dibius dilumbal menjadi lumpuh. Tapi pada saat itu ngga bilang begitu, aku
cuman bilang takut bila melihat pisau bedah mengiris perutku. Hehehe... Eh...
malah dijawab, tenang aja nanti kalau sudah lahir kamu saya buat tidur. Begitu
jawab dokternya. Hu...hu... makanya jangan bohong.
Tibalah hari yang dinanti untuk SC, masuk rumah sakit
bersalin jam 9 malam. Pagi-pagi dari jam 5 sudah dibersihkan perutnya maksudnya
dikasih obat urus-urus dan perlakuan untuk persiapan SC. Jam 06:30 sudah
berbaring di meja operasi. Brrrrr... dingin banget, mana hanya pakai selembar
kain. Sebenernya mungkin karena takut juga yang bikin rasa dinginnya lebih
terasa. Walau saat itu adalah ketiga kalinya nongkrong di atas meja operasi
tapi tetap aja rasa takut masih menyelimuti.
Hu...hu... mana dokternya ya... Kok belum nongol juga
sih. Finally... datang juga tuh jam 7 pas. Tapi lumayan lah selama nunggu bisa
terus berdoa, semoga semuanya bisa berjalan lancar.
Tibalah saatnya untuk dianasthesi. Saat yang paling
mendebarkan, ketika sang dokter anasthesi bilang jangan tegang, rileks aja. Nah
kata-kata itu malah bikin aku tegang. Hahaha... Tapi akhirnya masuk juga obat
anasthesinya dengan selamat. Perut dan kaki sudah tidak bisa merasakan apa-apa
lagi. Sebelumnya sih masih bisa merasakan ketika dokter sedang mengoleskan
antiseptik diatas perut. Tapi ketika dokter mulai menyayat perut, aku sudah
tidak merasakan apa-apa lagi. Kaki sudah berasa seperti balok kayu, katika diguncang-guncang
aku tidak punya kemampuan untuk menahan.
Akhirnya anakku lahir, ku ucapkan salam padanya.
Setelah ku ucapkan salam padanya tiba-tiba aku tertidur. Rupanya sesuai
janjinya, sang dokter anasthesi memberi obat tidur. Padahal tanpa obat tidur aku
juga aku mah jagoan tidurnya (mana saat itu aku ngorok keras banget. Tau ngorok
keras itu dari dokter kandunganku ketika
bercerita tentang kistaku. Tapi biarin deh, semoga dia udah lupa sekarang.
& kalau tidak kecapaian sekarang aku tidak ngorok lagi loh. Catat ya !).
Aku tersadar jam 8:30. Sudah diruang pemulihan, sambil melihat jam aku bertanya
pada suamiku, kok lama banget operasinya. Biasanyakan hanya setengah jam.Ternyata ketika SC, dokter kandunganku menemukan kista pada ovariumku, pada bagian kanan berdiameter 10 cm dan 4 cm pada ovarium kiri. Finally ovarium kananku diamputasi tanpa persetujuanku. Hiks... Tapi masih Alhamdulillah yang kiri bisa dipertahankan, kalo dua-duanya diamputasi menopouse dong. Padahal dengan hilangnya 1 ovariumku aku juga merasakan adanya perbedaan. Apalagi kalau tidak ada dua-dunya. Setelah 1 minggu dinyatakan tidak ada keganasan dari ovarium yang di amputasi, dan setelah 3 bulan kontrol, ovarium kiriku sudah kembali keukuran normal. Alhamdulillah...


Tidak ada komentar:
Posting Komentar