Hidup yang indah dambaan semua orang. Apa lagi ketika orang itu sedang terpuruk.
Hanya dengan syukur semuanya itu bisa dirasakan. Setiap kejadian pasti ada
hikmahnya. Tapi ketika jenuh melanda, kena masalah sedikit rasanya darah
bisa naek ke kepala. Lupa sudah teori-teori untuk menyikapi kehidupan dengan lebih
bijaksana.
Ketika masalah terus mendera, apa yang mesti dilakukan? Berputus asa itu tidak baik. Tapi untuk maju terus
belum nemu jalan yang baik & benar. Lebih baik cooling down dulu deh.
Setuju??? ^_^
Nemu tulisan yang judulnya Rahasia Kebahagian. Isinya bagus, sayang aku lupa copas dari mana. Kepada yang udah nulis maaf ga dicantumkan namanya.:)
Rahasia kebahagiaan adalah memusatkan perhatian pada kebaikan
dalam diri orang lain. Sebab, hidup bagaikan lukisan: Untuk melihat
keindahan lukisan yang terbaik sekalipun, lihatlah di bawah sinar yang
terang, bukan di tempat yang tertutup dan gelap sama halnya sebuah
gudang.
Rahasia kebahagiaan adalah tidak menghindari kesulitan. Dengan
memanjat bukit, bukan meluncurinya, kaki seseorang tumbuh menjadi kuat.
Rahasia kebahagiaan adalah melakukan segala sesuatu bagi orang lain.
Air yang tak mengalir tidak berkembang. Namun, air yang mengalir dengan
bebas selalu segar dan jernih.
Rahasia kebahagiaan adalah belajar dari orang lain, dan bukan
mencoba mengajari mereka. Semakin Anda menunjukkan seberapa banyak Anda
tahu, semakin orang lain akan mencoba menemukan kekurangan dalam
pengetahuan Anda. Mengapa bebek disebut "bodoh"? Karena terlalu banyak
bercuap-cuap.
Rahasia kebahagiaan adalah kebaikan hati: memandang orang lain
sebagai anggota keluarga besar Anda. Sebab, setiap ciptaan adalah milik
Anda. Kita semua adalah ciptaan Tuhan yang satu.
Rahasia kebahagiaan adalah tertawa bersama orang lain, sebagai sahabat, dan bukan menertawakan mereka, sebagai hakim.
Rahasia kebahagiaan adalah tidak sombong. Bila Anda menganggap
mereka penting, Anda akan memiliki sahabat ke manapun Anda pergi.
Ingatlah bahwa musang yang paling besar akan mengeluarkan bau yang
paling menyengat.
Kebahagiaan datang kepada mereka yang memberikan cintanya secara
bebas, yang tidak meminta orang lain mencintai mereka terlebih dahulu.
Bermurah hatilah seperti mentari yang memancarkan sinarnya tanpa
terlebih dahulu bertanya apakah orang-orang patut menerima
kehangatannya.
Kebahagiaan berarti menerima apapun yang datang, dan selalu mengatakan kepada diri sendiri "Aku bebas dalam diriku".
Kebahagiaan berarti membuat orang lain bahagia. Padang rumput yang
penuh bunga membutuhkan pohon-pohon di sekelilingnya, bukan
bangunan-bangunan beton yang kaku. Kelilingilah padang hidup Anda dengan
kebahagiaan.
Kebahagiaan berasal dari menerima orang lain sebagaimana adanya;
nyatanya menginginkan mereka bukan sebagaimana adanya. Betapa akan
membosankan hidup ini jika setiap orang sama. Bukankah taman pun akan
tampak janggal bila semua bunganya berwarna ungu?
Rahasia kebahagiaan adalah menjaga agar hati Anda terbuka bagi orang
lain, dan bagi pengalaman-pengalam an hidup. Hati laksana pintu sebuah
rumah. Cahaya matahari hanya dapat masuk bilamana pintu rumah itu
terbuka lebar.
Rahasia kebahagiaan adalah memahami bahwa persahabatan jauh lebih
berharga daripada barang; lebih berharga daripada mengurusi urusan
sendiri; lebih berharga daripada bersikukuh pada kebenaran dalam
perkara-perkara! yang tidak prinsipiil.
Renungkan setiap rahasia yang ada di dalamnya.
Rasakan apa yang dikatakannya.
Selasa, 27 November 2012
Sabtu, 10 November 2012
Antara Ayah, Anak dan Burung Gagak
Pada suatu petang seorang tua bersama anak mudanya yang baru
menamatkan pendidikan tinggi duduk berbincang-bincang di halaman sambil
memperhatikan suasana disekitar mereka.
Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pokok
berhampiran. Si ayah lalu menuding jari ke arah gagak sambil bertanya, “Nak,apakah
benda itu?”
“Burung gagak ”,jawab si anak.
Si ayah mengangguk-angguk, namun sejurus kemudian sekali lagi
mengulangi pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar
jawabannya tadi, lalu menjawab dengan sedikit kuat, “Itu burung gagak, Ayah!”
Tetapi sejurus kemudian si ayah bertanya lagi pertanyaan yang
sama. Si anak merasa agak keliru dan sedikit bingung dengan pertanyaan yang
sama diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih kuat, “BURUNG GAGAK!!” Si ayah
terdiam seketika.
Namun tidak lama kemudian sekali lagi sang ayah mengajukan
pertanyaan yang serupa hingga membuat si anak hilang kesabaran dan menjawab dengan
nada yang kesal kepada si ayah, “Itu gagak, Ayah.” Tetapi agak mengejutkan si anak, karena si ayah
sekali lagi membuka mulut hanya untuk bertanya hal yang sama. Dan kali ini si
anak benar-benar hilang sabar dan menjadi marah.
“Ayah!!! Saya tak tahu Ayah paham atau tidak. Tapi sudah 5 kali
Ayah bertanya soal hal tersebut dan saya sudah juga memberikan jawabannya. Apa
lagi yang Ayah mau saya katakan????
Itu burung gagak, burung gagak, Ayah …..”, kata si anak dengan nada
yang begitu marah.
Si ayah lalu bangun menuju ke dalam rumah meninggalkan si anak
yang kebingungan. Sesaat kemudian si ayah keluar lagi dengan sesuatu di
tangannya. Dia mengulurkan benda itu kepada anaknya yang masih geram dan
bertanya-tanya. Diperlihatkannya sebuah diary lama. “Coba kau baca apa yang
pernah Ayah tulis di dalam diary ini,” pinta si Ayah.
Si
anak setuju dan membaca paragraf yang berikut.
“Hari
ini aku di halaman melayani anakku yang genap berumur lima tahun.Tiba-tiba seekor
gagak hinggap di pohon berhampiran. Anakku terus menunjuk ke arah gagak dan bertanya,
“Ayah, apa itu?”
Dan
aku menjawab, “Burung gagak.” Walau bagaimana pun, anakku terus bertanya soal
yang serupa dan setiap kali aku menjawab dengan jawaban yang sama. Sehingga 25
kali anakku bertanya demikian, dan demi rasa cinta dan sayangku, aku terus
menjawab untu memenuhi perasaan ingin tahunya.
“Aku
berharap hal ini menjadi suatu pendidikan yang berharga untuk anakku kelak.”
Setelah
selesai membaca paragraf tersebut si anak mengangkat muka memandang wajah si Ayah
yang kelihatan sayu. Si Ayah dengan perlahan bersuara, “Hari
ini Ayah baru bertanya kepadamu soal yang sama sebanyak 5 kali, dan kau telah
hilang kesabaran serta marah.”
Lalu
si anak seketika itu juga menangis dan bersimpuh di kedua kaki ayahnya memohon
ampun atas apa yg telah ia perbuat.
Author
: PercikanIman.org
Shared
: Kisah Penuh Hikmah
Langganan:
Postingan (Atom)