Jumat, 06 Juli 2012

Rendah Hati bukan berarti Rendah Diri


Hasil download 29-11-2008, tapi sayang tidak tahu dari mana karena dulu hanya bermaksud untuk koleksi pribadi. Sayang banget kalo hanya aku yang baca, soalnya ceritanya bagus banget...

Pada suatu masa, Allah pernah berkata pada Nabi Musa. Intinya, Allah meminta agar Nabi Musa mencari seseorang yang ia anggap lebih hina dari dirinya. Setelah itu, berkelilinglah Nabi keseluruh pelosok negeri, menemui setiap orang yang ada, dan bercakap-cakap dengan mereka dan mencoba menemukan orang yang dimaksud. Tapi setelah sekian lama mencari, beliau mulai lelah. Karena setiap orang yang ditemui, walaupun tampak hina, ternyata memiliki sisi baik dan kelebihan masing-masing. Sampai akhirnya, beliau melihat seekor anjing yang sedang tidur. Tubuh anjing tersebut penuh dengan penyakit kulit. Karena setiap orang yang ditemui ada kelebihan dan kebaikan masing-masing, Nabi Musa memutuskan untuk membawa anjing tersebut dan ditunjukkan pada Allah sebagai mahluk yang lebih hina dari dirinya. Baru saja ia membawa anjing tersebut beberapa meter, tiba-tiba seorang fakir miskin berteriak, “Hendak dibawa kemana anjing tersebut? Tolong kembalikan, karena selama ini anjing itulah yang menjaga saya dari orang-orang jahat”. Mahluk itu, ternyata sangat berguna bagi seseorang…
Nabi Musapun akhirnya kembali dengan tangan kosong. Namun, justru dengan tidak membawa siapapun dan apapun-lah yang membuktikan kejernihan hati Nabi Musa. Ia tidak dengan sombong melihat sekelilingnya, bahwa ia lebih mulia dari yang lain…
 
Indah ya..
 
Back to our hearts…
Seringkali kita, dengan segala kebenaran yang kita bawa, merasa diri kita lebih mulia dari yang lain. Mungkin memang tidak dengan kata-kata “saya lebih mulia dari kamu”, tapi dengan menganggap bahwa pendapatnya paling benarpun, itu adalah kesombongan. Saya pernah membaca signature di email seorang teman, isinya kesombongan adalah ketika pikirannya tidak terbuka terhadap pendapat orang lain
 
Bahkan ketika diri kita memang (merasa) benar sekalipun, tetap mahluk yang bernama kesombongan itu tidak boleh hadir dalam hati. Betapapun kita menganggap pendapat kita paling benar, kita tetap harus bisa melihat pemikiran dan pendapat orang lain. Hati kita harus luas dan pikiran kita harus terbuka lebar.
Karena kebenaran paling hakiki dan mulia adalah milik Allah bukan..?
 
Seorang teman, YM pada saya, mengingatkan saya tentang email saya kemarin. Ada indikasi kesombongan dalam email tersebut. Kesombongan macam apa? Kesombongan yang memperlihatkan kemenangan dan keunggulan.  Hendaknya email tersebut ditutup dengan kata-kata yang kemudian ‘membunuh’ kesombongan tersebut. Dia mengutip ayat yang juga saya pergunakan, untuk mengingatkan akan keseluruhan isi email saya.
 
Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya.Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.
(QS. An Nashr:1-3)
 
Awal-awal ayat diceritakan tentang segala kegemilangan. Siapapun yang membaca akan merasakan ‘perasaan suka cita’ akibat kemenangan tersebut. Tapi lihat kalimat berikutnya, yang ada adalah kalimat penyadaran, bahwa Allah-lah yang Maha atas segala sesuatu. Walau mungkin kemenangan tersebut dikarenakan (melalui) usaha kita, namun kita tetap harus bertasbih pada Sang Maha Berkehendak. Segala pujian yang mungkin kita terima, seharusnya ditujukan padaNya. Bahkan kalimat selanjutnya, jelas-jelas memerintahkan kita untuk memohon ampun. Karena bisa jadi, saat kemenangan tadi, hati kita tergelincir dalam kesombongan, dalam perasaan yang merasa lebih dari yang lain.
 
Teman tadi berkata, ayat itu sebenarnya adalah ayat yang mengajak untuk bersujud memohon ampun. Bukan ayat ‘suka ria atas kemenangan’.
 
…Bahkan dalam (anggapan merasa) benar sekalipun, kita tidak boleh merasa lebih tinggi dari yang lain…
Karena kebenaran yang mutlak dan tertinggi hanya milik Allah…
Nabipun tidak berani menganggap dirinya lebih mulia dari yang lain.. 
 Subhanallah...