Hasil download 29-11-2008, tapi sayang tidak tahu dari mana karena dulu hanya bermaksud untuk koleksi pribadi. Sayang banget kalo hanya aku yang baca, soalnya ceritanya bagus banget...
Pada suatu masa, Allah pernah berkata pada
Nabi Musa. Intinya, Allah meminta agar Nabi Musa mencari seseorang yang ia
anggap lebih hina dari dirinya. Setelah itu, berkelilinglah Nabi keseluruh
pelosok negeri, menemui setiap orang yang ada, dan bercakap-cakap dengan mereka
dan mencoba menemukan orang yang dimaksud. Tapi setelah sekian lama mencari,
beliau mulai lelah. Karena setiap orang yang ditemui, walaupun tampak hina,
ternyata memiliki sisi baik dan kelebihan masing-masing. Sampai akhirnya,
beliau melihat seekor anjing yang sedang tidur. Tubuh anjing tersebut penuh
dengan penyakit kulit. Karena setiap orang yang ditemui ada kelebihan dan
kebaikan masing-masing, Nabi Musa memutuskan untuk membawa anjing tersebut dan
ditunjukkan pada Allah sebagai mahluk yang lebih hina dari dirinya. Baru saja ia
membawa anjing tersebut beberapa meter, tiba-tiba seorang fakir miskin
berteriak, “Hendak dibawa kemana anjing tersebut? Tolong kembalikan, karena
selama ini anjing itulah yang menjaga saya dari orang-orang jahat”. Mahluk
itu, ternyata sangat berguna bagi seseorang…
Nabi Musapun akhirnya kembali dengan
tangan kosong. Namun, justru dengan tidak membawa siapapun dan apapun-lah yang
membuktikan kejernihan hati Nabi Musa. Ia tidak dengan sombong melihat
sekelilingnya, bahwa ia lebih mulia dari yang lain…
Indah ya..
Back to our hearts…
Seringkali kita, dengan segala kebenaran yang kita bawa, merasa diri
kita lebih mulia dari yang lain. Mungkin memang tidak dengan kata-kata “saya
lebih mulia dari kamu”, tapi dengan menganggap bahwa pendapatnya paling benarpun,
itu adalah kesombongan. Saya pernah membaca signature di email seorang teman,
isinya “kesombongan adalah ketika pikirannya tidak terbuka terhadap pendapat
orang lain”
Bahkan ketika diri kita memang (merasa) benar sekalipun, tetap
mahluk yang bernama kesombongan itu tidak boleh hadir dalam hati. Betapapun
kita menganggap pendapat kita paling benar, kita tetap harus bisa melihat
pemikiran dan pendapat orang lain. Hati kita harus luas dan pikiran kita harus terbuka lebar.
Karena kebenaran paling hakiki dan mulia
adalah milik Allah bukan..?
Seorang teman, YM pada saya, mengingatkan
saya tentang email saya kemarin. Ada indikasi kesombongan dalam email tersebut.
Kesombongan macam apa? Kesombongan yang memperlihatkan kemenangan dan
keunggulan. Hendaknya email tersebut ditutup dengan kata-kata yang
kemudian ‘membunuh’ kesombongan tersebut. Dia mengutip ayat yang juga saya
pergunakan, untuk mengingatkan akan keseluruhan isi email saya.
Apabila telah datang pertolongan Allah dan
kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka
bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya.Sesungguhnya
Dia adalah Maha Penerima taubat.
(QS. An Nashr:1-3)
Awal-awal ayat diceritakan tentang segala kegemilangan. Siapapun
yang membaca akan merasakan ‘perasaan suka cita’ akibat kemenangan tersebut.
Tapi lihat kalimat berikutnya, yang ada adalah kalimat penyadaran, bahwa
Allah-lah yang Maha atas segala sesuatu. Walau mungkin kemenangan tersebut
dikarenakan (melalui) usaha kita, namun kita tetap harus bertasbih pada Sang
Maha Berkehendak. Segala pujian yang mungkin kita terima, seharusnya ditujukan
padaNya. Bahkan kalimat selanjutnya, jelas-jelas memerintahkan kita untuk
memohon ampun. Karena bisa jadi, saat kemenangan tadi, hati kita tergelincir
dalam kesombongan, dalam perasaan yang merasa lebih dari yang lain.
Teman tadi berkata, ayat itu sebenarnya adalah ayat yang mengajak
untuk bersujud memohon ampun. Bukan ayat ‘suka ria atas kemenangan’.
…Bahkan dalam (anggapan merasa) benar sekalipun, kita tidak boleh
merasa lebih tinggi dari yang lain…
Karena kebenaran yang mutlak dan tertinggi
hanya milik Allah…
Nabipun tidak berani menganggap dirinya
lebih mulia dari yang lain..
Subhanallah...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar